Laman

Thursday, June 2, 2011

Tataran Technical Fotografi

Tataran Technical
Pemaknaan estetika fotografi juga dipengaruhi oleh masalah teknis, yaitu aspek teknikal pada peralatan maupun praxis-implementative dalam pemanfaatan dan penggunaannya untuk mendapatkan hasil fotografi yang akan disampaikan. Adapun masalah teknikal tersebut variannya meliputi proses teknik pemotretan, proses kamar gelap berhubungan dengan cuci cetak,dan tahap penampilan/ pengemasan hasil fotografi sesuai dengan kebutuhan.
(thanks to model: Mr. BZeLL in Pasir Putih)
Pada teknik pemotretan yang lazim diberdayakan, misalnya pemanfaatan aperture berupa diafragma untuk memperoleh daerah ketajaman gambar yang umumnya disebut dengan ‘depth of field’ atau eksplorasi ‘camera speed’ atau yang lazim disebut dengan ‘f-stop’ , yaitu permainan pengaturan kecepatan pembukaan daun rana kamera untuk masuknya cahaya berupa bayangan gambar ke klise pada kamera analog/seluloid, dan CCD/ CMOS berupa sensor pada kamera digital. Hasil eksplorasi kecepatan itu diperoleh teknik ‘action’, yaitu berupa efek-efek gerak misalnya kesan gerak (slow action/ slow motion), penghentian gerak (stop action), atau kesan kibasan (panning). Eksplorasi daerah ketajaman sempit (depth of field/ d.o.f sempit misalnya) hasil gambar yang ditangkap oleh kamera akan membentuk gambar yang berkesan keruangan seperti halnya kenyataan visual saat melihat sesuatu dengan mata biasa. Objek utama akan terlihat paling fokus/ tajam/ jelas (focus), dan objek lainnya ‘background/foreground’ terlihat kabur-/ tidak fokus (out of focus). Itulah yang disebut estetika secara teknikal, yaitu menampakkan kesan sesuai dengan kebutuhan melalui pemanfaatan instrumentasi atau ‘apparatus’ yang ada pada kamera fotografi.

Masih banyak lagi trik yang berkaitan dengan masalah teknikal dalam proses pemotretan untuk menghasilkan berbagai ragam imaji untuk meraih nilai estetika. Pemanfaatan sudut pengamatan/ pandang (angle) tertentu bermaksud untuk menyampaikan kesan hasil foto yang unik; bird’s/ Frog’s eye view angel, aerial photography, under-water/ marine photo-graph, geographic photography, research photography, advertising photography, dan trik lainnya. Termasuk teknikal permainan dalam tata cahaya/pengolahan cahaya ‘light exposure’ yang meliputi available light yang memberikan kesan alamiah, artificial light berupa pencahayaan buatan atau pengarahan cahaya ‘direction light’ (top light, bottom light, side light, front light, back light, bounce light, bracketing, rim light). Bahkan, hingga trik pemakaian pencahayaan untuk memperoleh kesan cahaya yang minim untuk mencapai nilai artistik dengan pemanfaatan ‘mode menu bulb’ pada kamera.

Teknik pemotretan juga terkait dengan berbagai perangkat teknis dan jenisnya. Pemilihan kamera fotografi (SLR-Single Lens Reflex, TLR-Twin Lens Reflex, Box Camera, View Camera, Instamatic Camera, Folding Camera, dll), tentunya juga dipadu dengan berbagai jenis lensa (normal-lens, tele-lens, zoom-lens, wide angle-lens, fisheye-lens, dll) serta beragam penggunaan variasi filter yang semuanya dihadirkan untuk mencapai kesan visual dalam pencapaian nilai artistik yang beragam. Secara teknikal, pengambilan gambar bidikan dikenal istilah Close Up/ ‘CU’, Medium Close Up/ ‘MCU’, Long Shoot, Zooming, dll. Semua pemanfaatan teknikal tersebut disesuaikan dengan fungsi dan tujuan masing-masing, yaitu semuanya memiliki bobot estetika. Dengan kata lain, meskipun peralatan yang tersedia cukup lengkap dan memadai serta canggih, masih tetap diperlukan operator yang memiliki talenta teknis dengan kepekaan estetis yang memadai ibarat ‘man behind the gun’ saat mengimplementasikan secara praksis semua peralatan dalam menciptakan citra fotografi.

 Salam Kekuatan Berawal Dari Hati bayoete.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar maupun Pesannya.... lampirkan alamat email atau web anda:..... Thanks