Laman

Wednesday, June 1, 2011

PENGEMBANGAN MEDIA WEBSITE PEMBELAJARAN

PENGEMBANGAN MEDIA WEBSITE PEMBELAJARAN
MATERI PROGRAM LINIER UNTUK SISWA SMA



“RESUME”

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menghasilkan sebuah website dengan konten program linear. Responden penelitian ini adalah para siswa kelas X ........ . Media ini dikembangkan melalui empat tahapan, yaitu tahap analisis pendahuluan, tahap perancangan, tahap evaluasi, dan tahap revisi. Untuk melihat keefektifannya, peneliti melakukan uji pakar dan uji coba ke lapangan dengan indikator bagaimana motivasi, sikap, dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan prototype media website yang ketiga merupakan disain yang efektif  ketika digunakan pada saat pembelajaran dengan 71,79% siswa Termotivasi; 61,54% siswa mempunyai sikap Tertarik, dan hasil belajar siswa yang mencapai 51,28% masuk dalam kategori Baik Sekali, sehingga dapat disimpulkan bahwa website yang peneliti kembangkan efektif digunakan pada saat pembelajaran matematika.

Kata kunci : Pengembangan, Media, Website

PENDAHULUAN
 Berkembangnya ilmu dan teknologi telah membawa perubahan pada learning material atau materi pembelajaran. Pengembangan materi ajar non cetak harus dapat memanfaatkan semaksimal mungkin kemampuan medianya. Dengan kata lain, pemilihan materi yang sesuai dengan media yang ditentukan merupakan langkah awal yang penting, mampu melibatkan proses berpikir peserta didik, serta memungkinkan peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan secara mandiri (Universitas Terbuka, 2006)
Dalam pembelajaran matematika khususnya di tingkat SMP maupun SMA, penggunaan komputer bisa menyajikan materi dalam bentuk grafis dan audio-video, tetapi tidak semua materi pelajaran matematika dalam kurikulum bisa disajikan dalam computer (Yunan, 2006). Media komputer bukan hanya sebagai alat untuk membantu siswa menyelesaikan soal-soal matematika seperti halnya penggunaan kalkulator untuk mempercepat proses perhitungan. Pembelajaran matematika dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi setiap siswa. Hal ini tergantung pada gurunya dalam menyampaikan matematika sebagai suatu aplikasi yang menarik (Edge, 2008). Munculnya komputer telah membantu para guru untuk mengajar matematika dengan cara yang baru dan menarik. Furner, et al (2008) menyatakan bahwa  salah satu strategi untuk mengajar matematika yang dapat mencapai seluruh siswa adalah dengan mengakses internet dan menggunakan software matematika. Internet dan software computer dapat digunakan sebagai alat pengajaran untuk mengeksplorasi, menyelidiki, menyelesaikan masalah, berinteraksi, merefleksi, bernalar, berkomunikasi, dan belajar banyak konsep yang sesuai kurikulum sekolah.
Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan suatu usaha mengembangkan media pembelajaran geometri yang menggunakan software Macromedia Flash MX 2004 dan Microsoft Powerpoint 2003 yang dilakukan oleh Utami  (2007). Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa penggunaan media komputer dalam pembelajaran geometri dapat memotivasi dan meningkatkan hasil belajar siswa SMP. Karena selama pembelajaran, mereka dapat memahami geometri dengan memperhatikan animasi yang ditampilkan. Selain itu, pada penelitian Developing A Learning Environment on Realistic Mathematics Education for Indonesian Student Teachers  yang dilakukan oleh Zulkardi (2002) menunjukkan bahwa media website dapat membantu dan mempermudah mahasiswa pendidikan matematika dalam mempelajari pendekatan Pendidikan Matematika Realistis baik selama perkuliahan maupun setelah itu, karena dapat diakses dimanapun dan kapanpun mereka inginkan.
Pada peneltian selanjutnya, peneliti tertarik untuk mengembangkan materi pembelajaran matematika SMA kelas XII pokok bahasan program linear yang ditempatkan pada media website dengan memberikan animasi dan latihan interaktif menggunakan Software Macromedia Flash 8.0, sehingga dapat menarik perhatian dan memotivasi siswa belajar mandiri, dengan judul ”Pengembangan Media Website Pembelajaran Materi Program Linear untuk Siswa Sekolah Menengah Atas”.

RUMUSAN MASALAH
 Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
1.    Bagaimanakah mengembangkan media website pada materi program linear?
2.    Bagaimanakah sikap siswa terhadap pembelajaran program linear dengan media website?
3.   Bagaimanakah motivasi siswa dalam mempelajari materi program linear secara mandiri dengan media website?
4.    Bagaimanakah hasil belajar siswa dalam pembelajaran program linear yang menggunakan media website?
  
TUJUAN PENELITIAN
 Dari permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1.  Mengembangkan media website pada materi program linear sedemikian hingga siswa dapat belajar mandiri.
2.    Menghasilkan media website pada materi program linear yang valid.
3.    Mengetahui efektifitas media website pada materi program linear yang dilihat dari kualitas hasil belajar dan sikap siswa selama proses pembelajaran.
4.    Mengetahui tingkat motivasi siswa belajar mandiri terhadap materi pembelajaran program linear dengan media website.


MANFAAT PENELITIAN
 Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1.  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), sehingga dengan dikembangkannya materi pembelajaran matematika pada media website dapat memberikan kontribusi pada dunia pendidikan.
2.   Proses pembelajaran, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat menjadi menarik dan menyenangkan dengan mempelajari materi matematika pada media website.
3.   Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang diharapkan menggunakan informasi dari hasil ujicoba penelitian ini untuk mengembangkan media website pada materi matematika yang lainnya.
4.   Sekolah, sehingga dapat memaksimalkan fungsi laboratorium komputer, khususnya komputer yang telah terhubung dengan internet dalam memfasilitasi siswa dalam belajar mandiri.

TIJAUAN PUSTAKA
 Strategi pembelajaran merupakan salah satu cara yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dan lebih daripada sekedar deskripsi mengenai bahan yang disajikan kepada siswa. Dick & Carey (1978) menyatakan bahwa strategi pembelajaran menjelaskan komponen-komponen umum dari prosedur suatu set bahan pembelajaran yang akan digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sependapat dengan definisi Dick dan Carey, Suparman (dalam Said, 2004) mengatakan strategi pembelajaran terdiri dari empat komponen utama, yaitu: (1) Urutan Kegiatan Pembelajaran; (2) Metode Pembelajaran; (3) Media Pembelajaran; dan (4) Waktu.
Salah satu usaha nyata untuk meningkatkan hasil belajar adalah penggunaan strategi pembelajaran yang efektif. Yang dimaksud dengan efektif, Reigeluth (dalam Said, 2004) menyatakan berapa banyak tujuan pembelajaran yang telah dicapai oleh siswa. Efektivitas ini diwujudkan dalam bentuk skor hasil belajar. Kemudian Dick & Carey (1978 : 158) menyatakan bahwa untuk mengetahui keefektifan dari materi pembelajaran diperlukan pengumpulan data dari para siswa yang menjadi sasaran populasi dan menggunakan informasi yang didapat untuk memperbaiki materi pembelajaran supaya lebih efektif lagi dari sebelumnya.
Roblyer (dalam Said, 2004) mengklasifikasikan karakteristik  pembelajaran yang menggunakan media komputer yang efektif dalam dua belas sifat. Pembelajaran yang menggunakan media komputer efektif karena pembelajaran ini dirancang: 1) berdasarkan tujuan instruksional, 2) sesuai dengan karakteristik siswa, 3) sangat potensial dalam mengadakan interaksi, 4) sangat bersifat individual, 5) efektif mempertahankan minat siswa karena dapat mengelola segala jenis informasi, 6) dapat mendekati siswa secara positif jika siswa memberikan jawaban yang salah, siswa tidak pernah dimarahi, 7) efektif dalam menyiapkan umpan balik, 8) cocok dengan lingkungan pembelajaran, 9) dapat menilai penampilan siswa secara patut, pertanyaan yang diajukan terhadap siswa langsung berhubungan dengan tujuan, 10) dapat menggunakan sumber-sumber komputer secara maksimal yang memiliki kemampuan sistem mengembangkan pembelajaran, 11) dirancang berdasarkan prinsip desain pembelajaran, dan 12) seluruh program sudah dievaluasi, telah diuji, dan disahihkan sebelum disebarkan atau digunakan.
Media website mempunyai manfaat sebagai media yang dapat menarik perhatian, memberikan pengalaman kepada siswa untuk berinteraksi langsung sehingga memberikan sikap positif kepada siswa untuk belajar secara mandiri dengan guru sebagai fasilitator. Materi program linear memerlukan pembelajaran yang memerlukan pemahaman daerah himpunan penyelesaian dari suatu pertidaksamaan yang digambarkan dalam koordinat kartesius. Hal ini dapat dilakukan dengan menganimasikannya melalui media komputer. Karena memerlukan pemahaman yang berulang-ulang, maka materi tersebut ditempatkan di media website, sehingga siswa dapat mempelajarinya lagi di luar jam sekolah. Ketersediaan website yang menyediakan fasilitas untuk menempatkan materi tersebut ada pada layanan free hosting, misalnya http://pages.google.com, sehingga efektifitas biaya dapat diatasi.
Proses belajar mandiri memberi kesempatan peserta didik untuk mencerna materi ajar dengan sedikit bantuan guru. Mereka mengikuti kegiatan belajar dengan materi ajar yang sudah dirancang khusus sehingga masalah atau kesulitan belajar sudah diantisipasi sebelumnya (Triluqman, 2007). Pada penelitian ini, kegiatan belajar mandiri siswa dilakukan di laboratorium komputer dengan cara mengakses materi pembelajaran matematika pada website yang telah dikembangkan oleh peneliti. Materi ajar merumuskan tujuan belajar dan disampaikan secara lengkap agar siswa dapat mengetahui tujuan yang akan dicapainya. Agar mudah dan dapat diakses siswa dimanapun dan kapanpun, maka materi ajar dalam hal ini program linear ditempatkan di media website.
Pembelajaran elektronik atau e-Learning telah dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wilson dalam Prabantoro, 2007) dan berbagai istilah telah coba digunakan untuk menjelaskan tentang apa itu pembelajaran elektronik, seperti antara lain adalah : on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, atau web-based learning. E-learning merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya (Brown dan Feasey dalam Prabantoro, 2007) atau suatu aktivitas pembelajaran yang menggunakan komputer baik yang terkoneksi melalui intranet maupun internet sebagai media penyampaiannya sehingga siswa dan guru dapat melakukan komunikasi secara langsung maupun tidak dengan memanfaatkan fasilitas yang ada pada website.
Ada tiga fungsi e-learning terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan dalam Prabantoro, 2007). Manfaat E-learning, yakni mempermudah interaksi antara peserta didik dengan materi belajar. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan pendidik maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut materi belajar ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Pendidik dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Macromedia Flash merupakan salah satu software animasi yang mempunyai banyak keunggulan, diantaranya adalah program yang berorientasi objek (OOP), mampu mendesain gambar berbasis vector, dapat dipergunakan secagai software pembuat situs WEB, dan lainnya.
Model pengembangan e-learning yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu akan dikembangkan jenis Web Centric Course yang mengkombinasikan pembelajaran jarak jauh (non-tatap muka) dan konvensional (tatap muka).  Pengembangan media website akan diberikan pendekatan kontekstual sehingga akan meningkatkan pemahaman dan menumbuhkan sikap positif siswa terhadap pembelajaran matematika.

METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif. Variabel dalam penelitian ini adalah media pembelajaran matematika yang dikembangkan pada website dengan pokok bahasan program linear yang meliputi isi (content) dan sistematika penyajiannya. Untuk mengetahui kefektifan media pembelajaran matematika ini dilakukan uji validasi dan evaluasi sebagai alat pengukur keberhasilan yang ditinjau dari sikap, motivasi, dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.
Pengembangan media pembelajaran matematika pada website adalah suatu kegiatan yang mengembangkan media pembelajaran matematika pokok bahasan program linear yang meliputi isi (content) dan sistematika penyajiannya menggunakan Macromedia Flash sebagai software pendukung pada website dimana untuk mengetahui keefektifan media tersebut dilakukan uji validasi, yang kemudian dilanjutkan uji lapangan (field test) melalui proses pembelajaran dengan cara mengaksesnya melalui komputer yang telah terkoneksi internet. Subjek dalam penelitian ini adalah media website pada materi program linear dengan responden para siswa kelas XII-IA 1 dan XII-IA 2 di SMA Negeri .......... .
Prosedur/langkah-langkah penelitian meliputi: 1. Tahap Analisis Pendahuluan; 2. Tahap Perancangan; 3. Tahap Evaluasi; 4. Tahap Revisi
Teknik pengumpulan data meliputi: 1. Angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran, digunakan untuk mengukur sikap siswa dan tingkat motivasi siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan media website; 2. Observasi, digunakan untuk mengumpulkan data mengenai tingkat motivasi siswa dalam mempelajari secara mandiri materi pembelajaran pada media website; 3. Tes, pada penelitian ini data tes diperoleh dari latihan soal, tugas pekerjaan rumah, dan tes yang diberikan pada akhir pembelajaran.
Teknik Analisis Data meliputi: 1. Analisis Data Angket,untuk mengukur sikap siswa digunakan angket tertutup yang dianalisis menggunakan skala Linkert; 3. Analisis Data Observasi, dengan cara memberikan skor pada setiap deskriptor yang terlihat pada siswa; 4. Analisis Data Tes, dianalisis untuk mengetahui kategori hasil belajar siswa. Nilai akhir tersebut diperoleh dengan jalan menjumlahkan nilai tugas pekerjaan rumah(T), nilai latihan (L), dan nilai tes/ujian (U), yang masing-masing diberi bobot 20, 30, dan 50, lalu dibagi 100. kriteria ketuntasan belajar adalah ³ 75.

HASIL DAN PEMBAHASAN
 Penelitian diawali dengan melakukan observasi ke SMA Negeri ………  secara informal untuk mengobservasi laboratorium komputer dan kecakapan siswa terhadap komputer, khususnya dalam mengakses internet. Pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Juli sampai November 2008. Siswa yang menjadi kelompok ujicoba pertama dalam penelitian ini adalah para siswa kelas XII-IA 1 yang berjumlah 37 orang dan yang menjadi kelompok ujicoba kedua adalah para siswa kelas XII-IA 2 sebanyak 39 orang.
Pada tahap analisis pendahuluan dilakukan analisis materi pokok bahasan program linear untuk disesuaikan dengan kompetensi dasarnya. Pada KTSP tujuan pembelajaran dituangkan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang tercantum dalam lampiran Peraturan Menteri Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Pada tahap perancangan terbagi dalam dua bagian, yaitu : tahap perancangan materi menggunakan kertas (paper-based) dan yang kedua menggunakan komputer (computer-based).
Pada tahap Evaluasi Prototype 1, dilakukan uji validasi terhadap pakar (expert review). Uji validasi untuk melihat kekurangan dari prototype 1 baik dari segi isi materi (content) maupun dari tampilan (layout) dilanjutkan dengan revisi. Pada Evaluasi Prototype 2, dilakukan uji validasi terhadap 2 pakar (expert review) yang bertujuan untuk mengetahui apakah masih ada kekurangan pada media website sebelumnya dilanjutkan dengan tahap uji coba yang pertama pada kelas XII-IA 1 dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang, selanjutnya dilakukan revisi prototype 2. Pada tahap Evaluasi Prototype 3, dilakukan dengan uji coba yang kedua dilakukan pada kelas XII-IA 2 dengan jumlah siswa sebanyak 39 orang. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah keefektifan media website program linear prototype 3 yang digunakan pada saat pembelajaran lebih baik dari prototype 2.
Penelitian ini menghasilkan media website untuk pembelajaran materi program linear yang telah dikembangkan menurut Akker (1999). Berdasarkan hasil deskripsi dari tahap persiapan dan uji validasi content dari pakar menunjukkan tidak ada kendala dalam hal materi, karena telah sesuai dengan KTSP. Sedangkan ditinjau dari kondisi teknis computer yang digunakan untuk pengujicobaan media yang dikembangkan cukup sesuai yang diharapkan. Pada tahap pengembangan media, peneliti mendisain materi menggunakan software Macromedia Flash 8.0 yang dipublish dengan tipe SWF (Shockwave Flash). Hasil disain materi tersebut kemudian di-upload ke web hosting http://pages.google.com dimana layout tampilan web memanfaatkan pilihan yang ada pada hosting tersebut. Berdasarkan hasil analisis data, prototype 1 masih banyak kekurangan baik mengenai isi, tampilan materi pada flashnya, maupun dalam hyperlink halaman pada web. Hal ini menunjukkan bahwa prototype 1 belum efektif jika dipelajari oleh siswa. Revisi prototype 1 menghasilkan prototype 2 yang kemudian dilakukan uji validasi dan uji coba ke subjek penelitian siswa kelas XII-IA 1. Dari uji validasi terhadap pakar menunjukkan bahwa penyajian materi pada prototype 2 telah lebih baik dari prototype 1, tetapi masih kurang jelasnya petunjuk dalam mengerjakan latihan, dan belum mengoptimalkan kelebihan internet dalam melakukan evaluasi secara online. Revisi prototype 2 menghasilkan prototype 3 dimana saran-saran dari pakar dan kejadian di lapangan saat uji coba prototype 2 dijadikan sebagai acuan. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa prototype 3 lebih baik dari prototype 2. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi tingkat motivasi siswa kelas XII-IA 2 dalam belajar mandiri tidak ada lagi siswa yang masuk dalam kategori Tidak Termotivasi pada pertemuan kedua. Dari angket motivasi, ketika siswa tidak memahami materi yang ada pada website, maka tidak ada lagi siswa yang melewatinya, dan sebagian besar berusaha memahaminya sendiri dengan mengulangi lagi.
Menurut pengamatan peneliti, selama kegiatan pembelajaran berlangsung tidak terjadi hambatan dalam pengelolaan kelas, hanya saja  masih ada terjadi gangguan teknis dalam koneksi internet yang menyebabkan suasana pembelajaran sedikit terganggu. Ketertarikan mereka terlihat dari semangat mereka dalam mempelajari materi program linear pada website. Berikut gambar kegiatan pembelajaran pada laboratorium komputer SMA Negeri .........
Dengan demikian media website yang telah dikembangkan menurut Akker (1999) telah efektif ketika digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari tingkat motivasi siswa, sikap siswa, dan hasil belajar siswa yang tergolong dalam kategori baik, artinya media website dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran matematika di SMA.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.  Proses pengembangan media website program linear dimulai dari analisis pendahuluan, merancang, mengevaluasi dan merevisi. Pada tahap analisis pendahuluan dilakukan analisis kurikulum mengenai materi apa saja yang menjadi prasyarat sebelum masuk ke materi inti. Pada tahap perancangan terlebih dahulu dilakukan perancangan diatas kertas (paper-based) dan kemudian didisain pada komputer (computer-based). Pada tahap evaluasi, hasil rancangan yang berupa prototype 1 divalidasi mengenai isi maupun tampilannya melalui pakar (expert review).
2.  Sikap siswa terhadap pembelajaran program linear dengan media website termasuk dalam kriteria Tertarik.
3.  Tingkat motivasi siswa dalam mempelajari materi program linear secara mandiri dengan media website termasuk dalam kategori Termotivasi.
4.   Hasil belajar siswa dalam pembelajaran program linear yang menggunakan media website termasuk dalam kategori Sangat Baik
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka dapat disarankan sebagai berikut:
1.   Guru bidang studi matematika, agar dapat menggunakan media website dalam pembelajaran.
2.   Peneliti lain, untuk mengembangkan website tidak hanya pada materi program linear tetapi juga pada materi matematika yang lain.
3.   Siswa, agar menggunakan website dalam pembelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
4.   IPTEK, agar dapat mengembangkan suatu software yang dapat mempermudah guru maupun peneliti lain dapat mendisain materi ajarnya sendiri.

 Salam Kekuatan Berawal Dari Hati bayoete.blogspot.com

TEORI KECERDASAN MAJEMUK

TEORI KECERDASAN MAJEMUK


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kecerdasan atau intelejensi seseorang dibawa dari pertama kali ia dilahirkan. Akan tetapi perkembangan kecerdasan atau intelegensi itu didapatkan seseorang seiring perkembangannya dalam kehidupan. Kecerdasan terbagi-bagi menjadi tiga bagian, yaitu kecerdasan intelektual atau IQ, kecerdasan spiritual atau SQ, dan kecerdasan emosional atau EQ. ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Agar terjadi keseimbangan maka ketiganya harus diasah dengan baik melalui suatu proses pembelajaran dan pengalaman-pengalaman tersendiri.
Menurut Piaget perkembangan intelegensi atau kecerdasan anak itu terbagi menjadi empat tahap, yaitu tahap sensori motorik antara umur 0-2 tahun, tahap praoperasional (2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-12 tahun), dan tahap operasional formal (12 tahun-seterusnya). Tahapan-tahapan ini pasti dilalui oleh anak dalam perkembangannya dari lahir sampai ia dewasa. Menurut piaget apabila satu tahap saja tidak dilalui oleh seorang anak, maka itu akan berakibat pada kecerdasan anak itu sendiri.
Intelegensi sangat penting bagi kehidupan seseorang, karena tanpa intelegensi tersebut, seseorang tidak akan mampu untuk membedakan sesuatu, baik itu hal yang nyata ataupun hal yang tidak nyata. Jika kita membicarakan intelegensi maka tidak terlepas dari proses pembelajaran. Karena intelejensi itu berkembang dan didapatkan melalui proses pembelajaran. Jika intelegensi itu tidak diasah maka intelegensi itu tidak akan berkembang dan tidak akan ada perubahan. Daya pikir seseorang yang telah mendapat didikan dari sekolah (pembelajaran), menunjukkan sifat-sifat yang lebih baik daripada anak yang tidak bersekolah.
Intelegensi atau kecerdasan tidak hanya terpaut pada kecerdasan individual, tetapi ada pula kecerdasan majemuk. Melalui teori kecerdasan majemuk akan menghindari adanya penghakiman terhadap manusia dari sudut pandang intelejensi. Pendidikan atau pembelajaran kecerdasan ganda berorientasi pada pengembangan potensi anak bukan berorientasi pada idealisme guru atau orang tua.
Dengan paparan di atas maka kami akan mencoba untuk membahas tentang kecerdasan majemuk atau multiple intelligences. Agar kecerdasan majemuk itu dapat dikembangkan dengan baik dalam proses pembelajaran.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1.      Apakah pengertian intelegensi itu?
1.2.2.      Bagaimanakah ciri-ciri perbuatan intelegensi?
1.2.3.      Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi?
1.2.4.      Bagaimana konsep kecerdasan majemuk itu?
1.3. Tujuan Penulisan
1.3.1        Untuk mengetahui pengertian intelegensi
1.3.2        Memahami bagaimana ciri-ciri perbuatan intelegensi
1.3.3        Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi intelegensi
1.3.4        Memahami konsep kecerdasan majemuk
1.4. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu agar kita mengetahui dan memahami apa yang dimaksud kecerdasan majemuk itu. Dan juga mengetahui bagaimana intelegensi itu berpengaruh bagi kehidupan kita. Agar kita bisa memanfaatkan teori kecerdasan majemuk itu dalam proses pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Intelegensi
Orang berpikir menggunakan pikiran  atau inteleknya. Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung kepada kemampuan intelelejensinya. Dilihat dari intelejensinya kita dapat mengatakan seseorang itu pandai atau bodoh. Intelejensi ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara yang tertentu.
William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut, Intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan  diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya. William Stern berpendapat bahwa intelegensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang. Juga Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam, menyatakan bahwa menurut penyelidikannya belum dapat dibuktikan bahwa intelegensi dapat diperbaiki  atau dilatih. Belajar berpikir hanya diartikannya bahwa banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak berarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.
Pendapat-pendapat baru membuktikan bahwa intelegensi pada anak-anak yang lemah pikiran dapat juga dididik dengan cara yang lebih tepat (lihat hasil penyelidikan Frohn dimuka). Juga kenyataan membuktikan bahwa daya pikir anak-anak yang telah mendapat didikan dari sekolah, menunjukkan sifat-sifat yang lebih baik daripada anak yang tidak bersekolah. Dari batasan yang dikemukakan di atas, dapat kita ketahui bahwa:
v  Intelegensi itu ialah faktor total, berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan  di dalamnya (ingatan ,fantasi, perasaan, minat dan sebagainya turut mempengaruhi seseorang).
v  Kita hanya dapat mengetahui intelegensi dari tingkah laku atau perbuatannyayang tampak. Intelegensinya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsungmelalui kelakuan intelegensinya.
v  Bagi suatu perbuatan intelegensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang penting. Faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan.
v  Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu.
2.2. Ciri-Ciri Perbuatan Intelegensi
Suatu perbuatan dapat dianggap intelegensi bila memenuhi beberapa syarat antara lain:
  • Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan. Umpamanya ada soal: “Mengapa api jika ditutup dengan sehelai karung bisa padam? Ditanyakan kepada anak yang baru bersekolah dapat menjawab dengan betul maka jawaban itu intelegensi. Tetapi jika pertanyaan itu dijawab oleh anak yang baru saja mendapat pelajaran Ilmu Alam tentang api, hal itu tidak dapat dikatakan intelegensi.
  • Perbuatan intelejen sifatnya serasi tujuan dan ekonomis. Untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikannya., dicari jalan yang dapat menghemat waktu dan tenaga. Saudara kehilangan pulpen di suatu lapangan. Bagaimana cara mencarinya? Bagaimana menebang pohon-pohon di rimba raya, agar dalam waktu singkat dapat merobohkan banyak pohon? Cara mengambil kelapa di Lampung dengan memakai galah yang panjang, sedangkan di daerah Jawa pada umumnya dengan memanjat batangnya satu-satu. Mengapa?
  • Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan. Ada suatu masalah yang bagi orang dewasa mudah memecahkan/menjawabnya, hampir tiada berpikir , sedang bagi anak-anak harus dijawabnya dengan otak, tetapi dapat. Jawaban anak itu intelejen.
  • Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat. Apa yang harus anda perbuat jika anda lapar? Kalau jawabannya: saya harus mencuri makanan. Tentu saja jawaban itu tidak intelejen.
  • Dalam berbuat intelejen seringkali menggunakan daya mengabstraksi. Pada waktu berpikir, tanggapan-tanggapan dan  ingatan-ingatan yang tidak perlu harus disingkirkan. Apakah persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya mengabstraksi.
  • Perbuatan intelejen bercirikan kecepatan. Proses pemecahannya relative cepat, sesuai dengan masalah yang dihadapi.
  • Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Apa yang akan saudara perbuat jka sewaktu-waktu saudar melihat orang yang tertubruk mobil dan pertolongan saudara sangat diperlukan?
2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelejensi, sehingga terdapat perbedaan  intelejensi seseorang dengan yang lain ialah:
ü  Pembawaan; Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.
ü  Kematangan; Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing
ü  Pembentukan; Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelejensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah)dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
ü  Minat dan pembawaan yang khas; Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
ü  Kebebasan; Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang  tertentu dalam memecahakan masalah-masalah
Semua faktor tersebut di atas bersangkut paut satu sama lain. Untuk menentukan intelejen atau tidaknya seorang anak, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah sati factor tersebut di atas. Intelejensi adalah factor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelejensi seseorang.
2.4. Konsep Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence)
Kecerdasan Majemuk adalah suatu kemampuan ganda untuk memecahkan suatu masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
Konsep kecerdasan jamak ( multiple Intellegence) berawal dari karya Howard Gardner dalam buku Frames Of  Mind tahun 1983 didasarkan atas hasil penelitian selama beberapa tahun tntang kapasitas kognitf manusia ( Human Cognitif Capacities) Gardner menolak asumsi bahwa kognisi manusia merupakan satu kesatuan dan individu hanya mempunyai kecerdasan tunggal. Meski sebagian besar individu menunjukkan penguasaan yang berbeda. Individu memiliki beberapa kecerdasan dan bergabung menjadi satu kesatuan membentuk kemampuan pribadi yang cukup tinggi. Howard Garnerd memperkenalakan sekaligus mempromosikan hasil penelitian Projecct Zero di Amerika yang berkaitan  dengan kecerdasan ganda (multiple intelligences). Teorinya menghilangkan anggapan yang selama ini tentang kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu macam kecerdasan, melainkan seluruh kecerdasan yang selama ini dianggap ada 7 macam kecerdasan, dan pada buku yang mutakhir ditambahkan lagi 3 macam kecerdasan. Semua kecerdasan ini bekerja sama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya tentu saja bebeda-beda pada masing-masing budaya. Namun secara keseluruhan semua kecerdasan tersebut dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling menonjol akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainnya dalam memecahkan masalah.
Berdasarkan pada teori Gardner, David G. Lazear memberikan petunjuk untuk mengubah dan meningkatkan kecerdasan-kecerdasan tersebut lengkap dengan instrumentasinya dalam pembelajaran. Ia mengembangkan proses pembelajaran di kelas yang memanfaatkan dan mengembangkan kecerdasan ganda anak, dengan harapan dapat digunakan anak diluar kelas dalam mengenali dan memahami realitas kehidupan.
Pokok-pokok pikiran  yang dikemukakan Garnerd adalah :
  • Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya
  • Kecerdasan selain dapat berubah dapat pula diajarkan kepada orang lain
  • Kecerdasan merupakan realitas majemuk yang muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia
  • Pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh. Artinya dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan manusia bekerja bersama-sama, kompak dan terpadu.
Kecerdasan yang terkuat cenderung “memimpin”/”melatih” kecerdasan lainnya yang lebih lemah. Dikatak juga bahwa manusia mempunyai berbagai cara untuk mendekati suatu masalah dan hamper semuanya dipelajari secra alami.
Kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan di dalam latar budaya tertentu. Rentang masalah atau sesuatu yang dihasilkan mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks.
Adapun Definisi Gardner tentang kecerdasan :
v  Kecakapan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
v  Kecakapan untuk mengembangkan masalah baru untuk dipecahkan.
v  Kecakapan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat didalam kehidupannya.
Penelitian Gardner mengidentifikasi ada 8 macam kecerdasan manusia dalam memahami dunia nyata, kemudian diikuti oleh tokoh-tokohlain dengan menambahkan dua kecerdasan lagi, sehingga menjadi 10 macam kecerdasan. Berikut akan dijelaskan secara singkat kesepuluh kecerdasan tersebut, yaitu:
1)      Kecerdasan Bahasa (Verbal- Linguistik Intelegence)
Merupakan kecakapan berpikir melelui kata- kata, menggunakan bahasauntuk menyatakan dan memmaknai arti yang kompleks.
Contoh: Para Penulis, Ahli Bahasa, Sastrawan, Jurnalis, Orator.
2)      Kecerdasan Matematis (Logical- Mathemaical Intelegence)
Merupakan kecakapan untuk menghitung, mengkualitatif,merumuskan proposisi,hipotesis, serta memecahkan perhitungan- perhitungan matematis yang kompleks.
Contoh: Para Ilmuan, Ahli Matematis, Akuntan, Insinyur, Pemrogram Komputer.
3)      Kecerdasan Ruang ( Visual- Spatial Intellegence)
Merupakan kecakapan berpikir dalam ruang 3 dimensi.Mampu menagkap bayangan ruang internal dan eksternal untuk penentuan arah dirinya atau benda yang dikendalikan, mengubah dan menciptakan karya 3 dimensi nyata.
Contoh: Pilot, Nahkoda, Astronot, Pelukis, Arsitek.
4)      Kecerdasan Kinestetik/Gerak Fisik (Kinesthetik Intelegence)
Merupakan kecakapan untuk melakukan gerakan dan ketrampilan , kecakapan fisik seperti olah raga.
Contoh: Penari, Olahragawan, Pengrajin Profesional,
5)      Kecerdasan Musik ( Musical Intellegence)
Kecakapan yang dimiliki seseorang untuk menghasilkan dan menghargai musik, sensitive terhadap melodi, ritme, nada, tangga nada.
Contoh: Komponis, Dirigen, Musisi, Kritikus penyanyi, Kritikus musik, Pembuat instrument musik,
6)      Kecerdasan Hubungan Sosial ( Interpersonal Intellegence)
Kecakapan memahami dan merespon serta berinteraksi dengan orang lain dengan tepat, watak, tempramen, motivasi dan kecenderungan terhadap orang lain
Contoh: Guru, Konselor, Aktor,Politikus
7)      Kecerdasan Kerohanian ( Intrapersonal Intellegence)
Kecakapan untuk memahami kehidupan emosional, membedakan emosi orang-orang, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri.Kecakapan membentuk persepsi
Yang tepat terhadap orang, menggunakannya dalam merencanakan dan merencanakan dan mengarahkan kehidupan yang lain.
Contoh: Psikolog, Psikiater, Filosof, Rohaniawan
8)      Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta.
9)      Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual banyak dimiliki oleh para rohaniawan. Kecerdasan ini berkaitan dengan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhannya. Kecerdasan ini dapat dikembangkan pada setiap orang melalui pendidikan agama, kontemplasi kepercayaan, dan refleksi teologis.
10) Kecerdasan Eksistensial ( exsistensialist intelligence)                        Kecerdasan eksistensial banyak dijumpai pada para filsuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya di dunia ini dan apa tujuan hidupnya. Melalui kontemplasi dan refleksi diri kecerdasan ini dapat berkembang.
Pada dasarnya semua orang memiliki semua macam kecerdasan di atas, namun tentu saja tidak semuanya berkembang atau dikembangkan pada tingkatan yang sama, sehingga tidak dapat digunakan secara efektif. Pada umumnya satu kecerdasan lebih menonjol/ kuat dari pada yang lain. Tetapi tidak berarti bahwa hal itu permanen/ tetap. Di dalam diri manusia tersedia kemampuan untuk mengaktifkan semua kecerdasan tersebut. Teori Garnerd ini memang masih memerlukan penelitian lebih lanjut khususnya tentang strategi pengukuran untuk masing-masing jenis kecerdasan, serta apakah macam-macam kecerdasan yang ada adalah sejumlah yang telah diuraiakan di atas atau masih bisa bertambah lagi.
Kriteria Keabsahan Munculnya Teori Kecerdasan
ü  Memiliki dasar biologis
Kecenderungan untuk mengetahui dan memecahkan masalah merupakan sifat dasar biologis/ fisiologis manusia. Misalnya, gerak tubuh, berkomunikasi dengan orang lain, berimajinasi sendiri, menggunakan ritme dan suara, dan lain-lain. Kecenderungan-kecenderungan ini semua berakar pada sistem biologis manusia itu sendiri.
ü  Bersifat universal bagi spesies manusia
Setiap cara untuk memahami sesuatu selalu ada pada setiap budaya, tidak peduli kondisi sosio-ekonomi dan pendidikanya. Walaupun telah berkembang jenis ketrampilan pada budaya yang berbeda, namun hadirnya kecerdasan adalah bersifat universal. Dengan kata lain, kecerdasan berakar pada keberadaan spesies manusia itu sendiri.
ü  Nilai budaya suatu ketrampilan
Cara untuk memahami sesuatu didukung oleh budaya manusia dan merupakan hal yang harus diteruskan kepada generasi penerus. Contoh, pengembangan bahasa bisa berupa tilisan pada suatu budaya,hiroglif pada budaya lain, pesan-pesan lisan, bahasa-bahasa tanda, pada budaya lain pula. Namun bahasa formal dinilai tinggi dan merupakan kriteria pendidikan dan sosial seseorang.
ü  Memiliki basis neurologi
Setiap kecerdasan memiliki bagian tertentu pada otak sebagai pusat kerjanya, dan yang dapat diaktifkan atau dipicu oleh informasi eksternal maupun internal.
ü  Dapat dinyatakan dalam bentuk simbol
Setiap kecerdasan dapat dinyatakan dalam bentuk simbol atau tanda-tanda tertentu. Misalnya simbol kata, gambar, music, angka, dan lain-lain. Adanya simbol-simbol tersebut merupakan kunci bahwa kecerdasan dapat dialihkan atau diajarkan.
Strategi Dasar Pembelajaran Kecerdasan Ganda
Ada beberapa strategi dasar dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan ganda, yaitu:
  • Membangunkan /memicu kecerdasan , yaitu upaya  untuk mengaktifkan indera dan menghidupkan kerja otak.
  • Memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara member latihan dan memperkuat kemampuan membangunkan kecerdasan.
  • Mengajarkan dengan /untuk kecerdasan ,yaitu upaya-upaya mengembangkan struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda.
  • Mentransfer kecerdasan, yaitu usaha memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatihkan di kelas untuk memahami realitas di luar kelas atau pada lingkungan nyata.
Di dalam bukunya yang berjudul “Seven ways of knowing: Teaching for multiple intelligences” Lazear secara lengkap menjelaskan cara pengelolaan masing-masing kecerdasan dengan urutan seperti pada strategi dasar di atas, lengkap dengan tujuan dan proses, teori dan  penjelasan bagian otak yang berkaitan dengan kerja kecerdasan masing-masing.
Mengembangkan Kecerdasan Ganda dalam Kegiatan Pembelajaran
Kecerdasan ganda sebenarnya merupakan teori yang bersifat filosofis. Hal ini tampak pada sikapnya terhadap belajar dan pandangannya terhadapa pendidikan atau pembelajaran. Pendidikan/pembelajaran ditinjau dari sudut pandang kecerdasan ganda lebih mengarah kepada hakekat dari pendidikan itu sendiri, yaitu yang secara langsung berhubungan dengan eksistensi, kebenaran , dan pengetahuan. Gambarannya tentang pendidikan diwarnai oleh semangat Dewey yang mendasarkan diri pada pendidikan yang bersifat progresif.
Kategori-kategori yang banyak digunakan orang selama ini adalah kategori music, pengamatan ruang, dan body-kinestetik (Amstrong, 1994). Adalah hal yang baru ketika Garnerd memasukkan kategori-kategori itu semua ke dalam pengertian kecerdasan dan bukannya talenta atau bakat. Garnerd menyadari bahwa banyak orang telah terbiasa mengatakan atau mendengarkan ungkapan seperti “Ia tidak begitu cerdas, tetapi ia memiliki bakat music yang sangat hebat”. Sebagaimana orang-orang mengatakan bahwa sesuatu adalah bakat, oleh Garnerd bakat-bakat atau kategoro-kategori tersebut dikatakan sebagai kecerdasan.
Untuk memberi dasar terhadap teori yang dikemukakannya, Gardner merancang dasar-dasar “tes” tertentu, dimana setiap kecerdasan harus dipertimbangkan sebagai inteligensi yang terlatih dan memiliki banyak pengalaman, yang tidak disebut sebagai talenta atau bakat. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam teori kecerdasan ganda, yaitu:
v  Setiap orang memiliki semua kecerdasan-kecerdasan itu
v  Banyak orang dapat mengembangkan masing-masing kecerdasannya sampai ke tingkat optimal
v  Kecerdasan biasanya bekerja bersama-sama dengan cara yang unik
v  Ada banyak cara untuk menjadi cerdas
Para pakar terdahulu mengatakan bahwa pikiran dipertimbangkan sebagai sesuatu yang ada pada jantung, hati dan batu ginjal. Pakar berikutnya beranggapan bahwa kecerdasan atau inteligensi terdiri dari beberapa factor. Teori kecerdasan ganda merupakan model kognitif yang menjelaskan bagaimana individu-individu menggunakan kecerdasannya untuk memecakan masalah dan bagaimana hasilnya. Tidak seperti model-model lain yang berorientasi proses, pendekatan Gardner lebih berorientasi pada bagaimana pikiran manusia mengoprasi atau mengolah, menggunakan, menguasai lingkungan.
Pengalaman-pengalaman menyenangkan ketika belajar akan menjadi activator bagi perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya. Sedangkan pengalaman-pengalaman yang menakutkan, memalukan, menyebabkan marah, dan pengalaman emosi negative lainnya akan menghambat perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya.
Apabila ingin mengetahui arah kecerdasan siswa di kelas, dapat diketahui melalui indicator-indikator tertentu. Misalnya, apa yang dikerjakan siswa ketika mereka mempunyai waktu luang. Setiap guru dapat menggunakan catatan-catatan kecil praktis yang dapat digunakan untuk memantau kecenderungan perkembangan kecerdasan siswa di kelas. Guru juga dapat menyusun checklist yang berisi tentang kecerdasan-kecerdasan tersebut. Cheklist dapat digunakan untuk memantau kecerdasan siswa. Selain checklist ada cara lain yang dapat digunakan yaitu mengumpulkan dokumen berupa photo, rekaman-rekaman lain yang berhubungan dengan aktifitas siswa, dan catatan-catatan di sekolah yang berhubungan dengan peringkat nilai semua mata pelajaran.
Kegiatan-kegiatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecerdasan ganda antara lain, dengan menyediakan hari-hari karir, studi tour,biografi, pembelajaran terprogram, kegiatan-kegiatan eksperimen, majalah dinding, papan display, membaca buku-buku yang bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan ganda, membuat table perkembangan kecerdasan ganda, atau human intelligence hunt.
Setiap siswa memiliki perbedaan kecenderungan dalam perkembangan kecerdasan gandanya, maka guru perlu menggunakan strategi umum maupun khusus dalam pembelajaran untuk mengembangkan seluruh kecerdasan siswa secara optimal. Teori kecerdasan ganda juga mengatakan bahwa tidak ada satu pun pendekatan atau strategi yang cocok digunaka bagi semua siswa. Dalam hal pengukuran kecerdasan ganda lebih mengutamakan pada studi dokumentasi dan proses pemecahan masalah. Apabila kegiatan di atas dapat dilakukan maka ketrampilan kognitif siswa pun dapat berkembang dengan sendirinya.
Ada satu alternative lain yang juga dapat digunakan dalam rangka memantau perkembangan kecerdasan siswa di kelas, yaitu dengan memberdayakan siswa sendiri. Artinya, checklist yang mencakup kecerdasan-kecerdasan tadi yang mengisi bukannya guru, tetapi pengisian dilakukan oleh para siswa. Kegiatan di kelas pada saat-saat tertentu adalah pengisian checklist tentang kecerdasan-kecerdasan masing-masing anak. Mereka saling memberikan penilaian antar teman.Selain anak diberi kesempatan untuk menilai kecerdasan temannya, ia juga diberi kesempatan untuk self-monitoring, dengan cara mengisi checklist tentang kecerdasan-kecerdasan yang dimilikinya sendiri.
Perkembangan kecerdasan juga dapat dilakukan dengan teknik “konseling sebaya”/ “tutor sebaya”. Caranya, guru menyeleksi siapakah yang memiliki keunggulan di bidang matematika misalnya, dimimta membimbing teman-temannya yang kurang dalam matematika. Demikian juga untuk bidang-bidang kecerdasan yang lain. Pembimbing di dalam kelompok dapat bergantian tergantung pada kecerdasan apa yang akan dikembangkan.
Pendekatan ini sangat tepat digunakan untuk anak-anak SMP dan SMA, mengingat pada dasarnya mereka lebih suka berbicara dan bergaul dengan teman sebayanya dari pada gurunya. Di samping itu, model konseling sebaya atau tutor sebaya dalam pembelajaran kecerdasan ganda memungkinkan berbagai aspek dalm diri anak dapat berkembang selaras dan optimal. Kelompok belajar semacam ini sangat potensial untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Guru dituntut untuk mampu mendeteksi anak-anak yang memiliki kecerdasa-kecerdasan unggul, dan membentuk kelompok-kelompok sesuai dengan kebutuhan.
Pendidikan/pembelajaran kecerdasan ganda berorientasi pada pengembangan potensi anak bukan berorientasi pada idiealisme guru atau orang tua apalagi ideology politik. Anak berkembang agar mampu membuat penilaian dan keputusan sendiri secara tepat, bertanggungjawab, percaya diri dan mandiri tidak bergantung pada orang lain, kreatif, mampu berkolaborasi, serta dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik. Ketrampilan-ketrampilan ini sangat dibutuhkan oleh manusia-manusia yang hidup di era ekonomi informasi abad global.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat kami simpulkan bahwa kecerdasan majemuk adalah suatu kemampuan ganda untuk memecahkan suatu masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Adapun manfaat dari kecerdasan majemuk dalam proses pembelajaran yaitu sebagai masukan berupa teori, metode dan praktek tentang pembelajaran itu sendiri.
3.2. Saran
Saran yang dapat kami berikan yaitu agar teori tentang kecerdasan majemuk itu dapat digunakan dalam proses pembelajaran, tanpa membedakan antara kecerdasan siswa yang satu dengan yang lain. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal dan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Budianingsih, Asri. 2004. Belajar Dan Pembelajaran. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sumber: http://ridhotha.wordpress.com/2010/01/30/teori-kecerdasan-majemuk/

 Salam Kekuatan Berawal Dari Hati bayoete.blogspot.com

Falsafah Burung Hantu

Motivation Q


Jadi lah seperti Burung Hantu yang Bijaksana


Smakin banyak ia Melihat, Smakin sedikit ia Bicara


Smakin sedikit ia Bicara, Smakin banyak ia Mendengar.

 Salam Kekuatan Berawal Dari Hati bayoete.blogspot.com