Laman

Kamis, 05 Mei 2011

MAKALAH PROBLEM FOBIA SEKOLAH dan SOSIAL

print this page Print NCB
PROBLEM FOBIA SEKOLAH dan SOSIAL

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Program Akta IV
Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Kependidikan
Dosen Pengampu : Drs. Munjin, M. Pd.I
 
Disusun Oleh:
NIN SUBKHANUDIN FADHILA
082337202
Kelas B
PROGRAM AKTA IV
DEPARTEMEN AGAMA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO
==============================================

BAB I PENDAHULUAN

Bermacam alasan yang memang seringkali dikemukakan anak-anak ketika mereka tidak ingin pergi ke sekolah. Tidak jarang orang tua hanya bisa terdiam dan termenung bahkan bingung ketika mendengar kata-kata tersebut diucapkan oleh anak tercintanya. Alasan-alasan yang biasa anak-anak ketika tiba-tiba mogok sekolah, diantaranya seperti dibawah ini:
“Aku nggak mau sekolah….. aku mau ikut mamah aja….”
“Perut adek sakit, Maaa…. Aku nggak enak badan, jadi hari ini aku nda mau masuk sekolah,ya…”
“adek mau maen saja dirumah,… adek takut sama bu/pak guru soalnya galak sekali, adek takut dimarahin, boleh ya..maaa….”

Banyak orang tua bingung menhadapi perubahan sikap anaknya yang tiba-tiba mogok tidak mau sekolah dengan bebagai macam alasan, mulai dari sakit kepala, sakit perut, sakit kaki, dan seribu alasan lainnya. Bagi orangtua yang anaknya masih kecil, pemogokan ini tentu bikin pusing.karena menimbulkan kebingungan apakah alasan tersebut benar atau hanya dibuat-buat. Orang tua jadi bingung, memaksa anak untuk tetap berangkat ke sekolah takut nanti anaknya menjadi stress, atau kalau ternyata benar apa yang dikemukakan anak, lantas bagaimana harus bersikap?. Sementara itu problem yang hampir sama dialami orang tua yang bingung menghadapi penolakan anaknya yang sudah waktunya berangkat sekolah tapi masih saja belum mau masuk sekolah.
Menghadapi kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua agar kendali pendidikan dan pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga tidak terjadi hal-hal negetif yang dapat merugikan perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan datang. Dalam pembahasan akan diulas apa yang dimaksud fobia sekolah, faktor penyebab, dan bagaimana seharusnya orang tua menyiasati kondisi ini atau pun penanganannya? Dan semua ini akan terbentuk fobia sosial? Hingga seseorang menjadi dewasa, ini pun menjadi permasalahan yang terjadi di lingkungan kita?

BAB II PEMBAHASAN
 A.          Arti Fobia Sekolah
Fobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika “masa keberangkatan” suadah lewat, atau hari minggu tau libur. Fobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapi suatu pengalaman tidak menyenangkan di sekolahnya.
Tingkatan dan jenis penolakan terhadap sekolah, para ahli menunjuk adanya beberapa tingkatan school refusal, mulai dari yang ringan hingga yang berat (fobia), yaitu:
1.            Initial school refusal behavior
Adalah sikap menolak sekolah yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat (seketika/ tiba-tiba) yang berakhir dengan sendirinya tanpa perlu penanganan.
2.            Subtantial school refusal behavior
Adalah sikap penolakan yang berlangsung selama minimal 2 minggu.
3.            Acute school refusal behavior
Adalah sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah.
4.            Chronic school refusal behavior
Adalah sikap penolakan yang berlangsung lebih dari setahun, bahkan selama anak tersebut bersekolah di tempat itu.

B.           Tanda-tanda Fobia Sekolah
Ada beberapa tanda yang dapat dijadikan sebagai criteria fobia sekolah atau pun school refusal, yaitu:
Ø   Menolak untuk berangkat ke sekolah.
Ø   Mau dating ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta pulang.
Ø   Pergi ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan mama, papa, atau pengasuhnya, atau menunjukan “tantrum”-nya seperti menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak lainnya, atau pun menunjukan sikap-sikap melawan atau menentang gurunya.
Ø   Menunjukan ekspresi atau raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar diijinkan pulang dan ini berlangsung selama periode tertentu.
Ø   Tidak masuk sekolah selama beberapa hari.
Ø   Keluhan fisik yang sering dijadikan alasan seperti sakit kepala, sakit perut, mual, dan sebagainya. Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah.
Ø   Mengemukakan keluhan lain (di luar keluhan fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke sekolah.

Waktu berlangsungnya fobia sekolah, tergantung pada penanganan yang dilakukan oleh orang tua. Makin lama problem itu akan selesai dan makin sering atau intens keluhan yang dilontarkan anak. Namun, makin cepat ditangani, problem biasanya akan berangsur-angsur pulih dalam waktu sekitar 1 atau 2 minggu.

C.          Faktor Penyebab
Ada beberapa penyebab yang membuat anak seringkali mogol sekolah, orang tua perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi sikap pemogokan itu, agar dapat memberikan penanganan yang benar-benar tepat. Alangkah baiknya, jika orang tua mau bersikap terbuka dalam mempelajari dan mencari semua kemungkinan yang bisa terjadi. Konsultasi dengan guru di sekolah, sharing dengan sesama orang tua murid, diskusi dengan anak, konsultasi dengan konselor atau psikolog, (kalau perlu) memeriksakan anak ke paramedis atau dokter sesuai keluhan yang dikemukakannya, hingga introspeksi diri adalah metode yang tepat untuk mendapatkan gambaran penyebab dari fobia sekolah anak
Berhati-hatilah untuk membuat diagnosa secara subyektif, didasarkan pada pendapat pribadi diri sendiri atau keluhan anak semata. Di bawah ini ada beberapa penyebab fobia sekolah:
1.            Separation Anxiety
Separation Anxiety pada umumnya dialami anak-anak kecil usia balita (18-24 bulan). Kecemasan itu sebenarnya adalah fenomena yang normal. Anak yang lebih besar pun (preschooler, TK hingga awal SD) tidak luput dari separation anxiety. Bagi mereka, sekolah berarti pergi dari rumah untuk jangka waktu yang cukup lama. Mereka tidak hanya akan merasa rindu terhadap orangtua, rumah, atau pun mainannya,tapi mereka pun cemas menghadapi tantangan, pengalaman baru dan tekanan-tekanan yang dijumpai di luar rumah.
Separation anxiety bisa saja dialami anak-anak yang berasal dari keluarga harmonis, hangat dan akrab yang amat dekat hubungannya dengan orang tua, singkat kata, tidak ada masalah dengan orang tua. Orang tua mereka adalah orang tua yang baik dan peduli pada anak, dan mempunyai kelekatan yang baik. Namun tetap saja anak cemas pada saat sekolah tiba. Tanpa orang tua pahami, anak-anak sering mencemaskan orang tuanya. Mereka takut kalau-kalau orang tua mereka diculik, atau diserang monster atau mengalami kecelakaan sementara mereka tidak berada di dekat orang tua. Ketakutan itu tidak dibuat-buat, namun merupakan fenomena yang biasa hinggap pada anak-anak usia batita dan balita. Oleh sebab itu, mereka tidak ingin berpisah dari orang tua dan malah lengket-nempel terus pada mama-papanya. Peningkatan kecemasan menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh mereka, dan ini lah yang sering dikeluhkan (perut sakit, mual, pusing, dsb). Sejalan dengan perkembangan kognisi anak, ketakutan dan kecemasan yang bersifat irrasional itu akan memudar dengan sendirinya karena anak mulai bisa berpikir logis dan realistis.
Separation anxiety bisa muncul kala anak selesai menjalani masa liburan panjang atau pun mengalami sakit serius hingga tidak bisa masuk sekolah dalam jangka waktu yang panjang. Selama di rumah atau liburan, kuantitas kedekatan dan interaksi antara orang tua dengan anak tentu saja lebih tinggi dari pada ketika masa sekolah. Situasi demikian, sudah tentu membuat anak nyaman dan aman. Pada waktu sekolah tiba, anak harus menghadapi ketidakpastian yang menimbulkan rasa cemas dan takut. Namun, dengan berjalannya waktu, anak yang memiliki rasa percaya diri, dapat perlahan-lahan beradaptasi dengan situasi sekolah.
Peneliti berpendapat, anak yang mempunyai rasa percaya diri yang rendah, berpotensi menjadi anak yang anxiety prone-children (anak yang memiliki kecenderungan mudah cemas) dan cenderung mudah mengalami depresi. Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa sikap dan pola asuh yang diterapkan pada anak ikut menyumbang terbentuknya dependency (ketergantungan), rasa kurang percaya diri dan kekhawatiran yang berlebihan. Contohnya, sikap orang tua yang overprotective terhadap anak hingga tidak menumbuhkan rasa percaya diri keberanian dan kemandirian. Anak tidak pernah diperbolehkan, dibiarkan atau didorong untuk berani mandiri. Orangtua takut kalau-kalau anaknya kelelahan, terluka, jatuh, tersesat, sakit, dan berbagai alasan lainnya. Anak selalu berada dalam proteksi, pelayanan dan pengawalan melekat dari orang tua. Akibatnya, anak akan tumbuh menjadi anak manja, selalu tergantung pada pelayanan dan bantuan orang tua, penakut, cengeng, dan tidak mampu memecahkan persoalannya sendiri. Banyak orang tua yang tanpa sadar membuat pola ketergantungan ini berlangsung terus-menerus agar mereka merasa selalu dibutuhkan (berarti, berguna) dan sekaligus menjadikan anak sebagai teman “abadi”. Padahal, dibalik ketergantungan sang anak terhadap orangtua, tersimpan kebutuhan dan ketergantungan orangtua pada “pengakuan” sang anak. Akibatnya, keduanya tidak dapat memisahkan diri saat anak harus mandiri dan sulit bertumbuh menjadi individu yang dewasa.
2.            Pengalaman Negatif di Sekolah atau Lingkungan
Mungkin saja anak menolak ke sekolah karena dirinya kesal, takut dan malu setelah mendapat cemoohan, ejekan atau pun di”ganggu” teman-temannya di sekolah. Atau anak merasa malu karena tidak cantik, tidak kaya, gendut, kurus, hitam, atau takut gagal dan mendapat nilai buruk di sekolah. Di samping itu, persepsi terhadap keberadaan guru yang galak, pilih kasih, atau “seram” membuat anak jadi takut dan cemas menghadapi guru dan mata pelajarannya. Atau, ada hal lain yang membuatnya cemas, seperti mobil jemputan yang tidak nyaman karena ngebut, perjalanan yang panjang dan melelahkan, takut pergi sendiri ke sekolah, takut sekolah setelah mendengar cerita seram di sekolah, takut menyeberang jalan, takut bertemu seseorang yang “menyeramkan” di perjalanan, takut diperas oleh kawanan anak nakal, atau takut melewati jalan yang sepi. Para ahli mengatakan, bahwa masalah-masalah tersebut sudah dapat menimbulkan stress dan kecemasan yang membuat anak menjadi moody, tegang, resah, dan mulai merengek tidak mau sekolah, ketika mulai mendekati waktu keberangkatan.
Masalahnya, tidak semua anak bisa menceritakan ketakutannya itu karena mereka sendiri terkadang masih sulit memahami, mengekspresikan dan memformulasikan perasaannya. Belum lagi jika mereka takut dimarahi orangtua karena dianggap alasannya itu mengada-ada dan tidak masuk akal. Dengan sibuknya orangtua, sementara anak-anak lebih banyak diurus oleh baby sitter atau mbak, makin membuat anak sulit menyalurkan perasaannya; dan akhirnya yang tampak adalah mogok sekolah, agresif, pemurung, kehilangan nafsu makan, keluhan-keluhan fisik, dan tanda-tanda lain seperti yang telah disebutkan di atas
3.            Problem Dalam Keluarga
Penolakan terhadap sekolah bisa disebabkan oleh problem yang sedang dialami oleh orangtua atau pun keluarga secara keseluruhan. Misalnya, anak sering mendengar atau bahkan melihat pertengkaran yang terjadi antara papa-mamanya, tentu menimbulkan tekanan emosional yang mengganggu konsentrasi belajar. Anak merasa ikut bertanggung jawab atas kesedihan yang dialami orangtuanya, dan ingin melindungi, entah mamanya atau papanya. Sakitnya salah seorang anggota keluarga, entah orangtua atau kakak/adik, juga dapat membuat anak enggan pergi ke sekolah. Anak takut jika terjadi sesuatu dengan keluarganya yang sakit ketika ia tidak ada di rumah.

D.          Penanganan Fobia Sekolah
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dalam menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal.
1.            Tetap menekankan pentingnya bersekolah
2.      Berusahalah untuk tegas dan konsisten dalam bereaksi terhadap keluhan, rengekan, tantrum atau pun rajukan anak yang tidak mau sekolah.
3.      Konsultasikan masalah kesehatan anak pada dokter
4.      Bekerjasama dengan guru kelas atau asisten lain di sekolah
5.      Luangkan waktu untuk berdiskusi/ berbicara dengan anak
6.      Lepaskan anak secara bertahap
7.      Konsultasikan pada psikolog/ konselor jika masalah terjadi berlarut-larut

E.     Mekanisme Terbentuknya Fobia pada Sosial
Saat seseorang mengalami rentetan peristiwa buruk (traumatis) ataupun ekstrim, timbul ketegangan luar biasa. Karena tubuh manusia tidak mungkin terus menerus tegang, upaya peredaan ketegangan biasanya dilakukan manusia secara tanpa sadar melalui mekanisme pertahanan diri dengan cara penekanan (repression) gangguan tersebut ke bawah sadar.
Jika seseorang tidak mampu mengatasi peristiwa traumatis tersebut, praktis pertumbuhan normal mentalnya mengalami degradasi ataupun terhenti (fiksasi). Pada peristiwa fiksasi tersebut, mental kita membentuk konfigurasi mental tertentu dan relatif permanen. Dikemudian hari jika terdapat stimulan yang sama atau mirip, maka pola respon yang akan dipakai adalah pola respon yang terakhir dikenal atau biasa disebut regresi.
Pada kebanyakan orang, fobia dianggap tidak penting ataupun mengganggu dirinya. Sesungguhnya Fobia sangat merugikan pertumbuhan normal mental kita dan biasanya kerugian tersebut baru disadari saat semuanya sudah sangat terlambat (kehilangan waktu, kesempatan dan kehidupan sosial).
Kerugian yang mengalami Fobia:
1.            Energi mental untuk tumbuh / naik derajat menjadi terkuras karena habis digunakan untuk merespon ujian dengan “cara” yang salah.
2.            Berisiko menghambat karir, jika fobia berhubungan dengan produktifitas atau pekerjaan.
3.            Mengganggu kehidupan sosial ataupun keluarga.
4.            Menjadi “model” atau teladan yang salah bagi bawahan kita, anak anak kita, dalam mensikapi persoalan.
5.            Dapat merembet ke fobia lainnya.

F.      Cara Melepaskan Diri dari Fobia
1.            Melawannya secara frontal. Tetapi cara ini tidak disarankan, karena selain “menyakitkan”, jika gagal, beresiko memperparah fobia.
2.            Melawan dengan emosi lain yang lebih kuat. Misal : rasa jijik dapat dikalahkan dengan motivasi uang “Fear Factor”. Takut gelap, dikalahkan dengan keinginan menemani pacarnya ketempat gelap ?.
3.            Desensitisasi : Berlatih menghadapi sumber fobia secara sengaja dan bertahap.
4.            Hypnotherapy / hipno terapi
5.            Servotherapy
Dengan Servotherapy, klien di bantu melakukan katarsis (pelepasan ketegangan) dan konfigurasi mental sewaktu mengalami trauma di tata ulang. Keuntungan dengan Servotherapy antara lain :
-                Cepat : lebih singkat dibanding penggunaan tehnik asosiasi bebas (psikoanalisa), cognitive behavior therapy (CBT), dll.
-                Efektif : lebih efektif dibanding pengendalian melalui prosedur atau sistim imbalan
-                Rasional : bebas mistik dan dapat diterima akal sehat
-                Universal : bersifat universal dan telah disesuaikan dengan karakter ke-Timuran sehingga aman terhadap agama, keyakinan, cara berfikir dan budaya yang kita anut
-                Aman : tanpa obat penenang dan resiko ketergantungan
-                Mudah : tanpa ritual dan syarat tertentu
-                Nyaman : memberikan rasa nyaman tanpa menimbulkan perasaan gelisah, kehilangan emosi ataupun rasa sakit tertentu
-                Praktis : bekerja secara otomatis dan kenyamanan puncak dapat langsung dirasa
-                Reborn : seolah terlahir kembali tanpa merasa menjadi orang lain
-                Kerahasiaan Terjamin : kerahasiaan / privacy terjamin
-                Permanen : perubahan relatif permanen.
-                Manfaat lain : berguna menghilangkan stress dengan cepat (kurang dari 5 menit).
Syarat mengikuti Servoherapy, terapi memang diinginkan oleh yang bersangkutan. Jika terapi dimaksudkan untuk Anggota keluarga, maka tahapan konsultasi “mutlak” harus dilalui, dengan tujuan “mengaktifkan” kebutuhan untuk berubah dan kesediaan menjalani terapi dari ybs. terlebih dulu. Jika dipandang perlu oleh terapis, anggota keluarga terkait harus bersedia diterapi pula.
BAB III PENUTUP

Fobia adalah ketakutan yang kuat dan abnormal seseorang terhadap suatu objek ataupun situasi tertentu. Fobia dapat terbentuk oleh sugesti negatif yang dipupuk, rentetan peristiwa yang sangat buruk, menakutkan ataupun menyakitkan dimasa lalu. Semakin ekstrim intensitas peristiwanya, semakin kuat potensi fobianya. Kebanyakan fobia terjadi pada masa kanak kanak walaupun dapat juga terjadi saat dewasa. Ciri ciri psikis antara lain muncul rasa cemas atau takut, tetapi tanpa dasar yang jelas dan cenderung panik. Ciri fisik antara lain gemetar, nafas menjadi cepat dan jantung berdebar-debar.
Jadi, persoalan mogok sekolah seyogyanya bukanlah masalah yang serius (kecuali ada masalah kesehatan serius). Namun jika dibiarkan berlarut-larut dapat benar-benar menjadi masalah serius. 
Fobia Sosial adalah ketakutan yang irasional terhadap keramaian, tempat umum ataupun sekelompok orang, dapat berupa perasaan takut tampil di depan umum seperti pidato / presentasi, takut makan di depan orang lain, takut dikritik dsb.
Yang bersangkutan merasa seolah diperhatikan oleh orang lain (tidak berani menatap mata orang lain), merasa penampilannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, merasa akan dihina ataupun dipermalukan. Jika terpaksanya harus tampil misal karena tuntutan pekerjaan harus berpidato/ presentasi dapat menimbulkan perasaan cemas, gugup atau panik. Ciri ciri lain dapat berupa keluhan kaki tangan gemetar, keluar keringat dingin, jantung berdebar debar, ingin buang air kecil, muka merah, terkadang disertai sakit kepala ataupun sakit perut. Penyebabnya dapat disebabkan oleh pengalaman pahit ataupun pola asuh sewaktu kecil misal diejek teman main, pernah di keroyok, kritik pedas dari orang tua, trauma kerusuhan dsb. Mengapa fobia sosial semakin lama dapat semakin parah? Karena terjadi proses “peneguhan” atau “fiksasi” atas peristiwa traumatis masa lalu. 
Karena dapat mengganggu aktifitas kita sehari hari, pekerjaan kita, kehidupan sosial kita sebaiknya fobia sosial diterapi pada kesempatan pertama. Penundaan hanya membuang buang waktu Anda dan membuat derita berkepanjangan.
 
REFERENSI

http://www.e-psikologi.com/anak/101002.htm. “Fobia Sekolah Oleh Jacinta F. Rini. Jakarta, 10 Oktober 2002” di akses pada tanggal 18 Juli 2008.
http://klinikservo.wordpress.com/2007/02/28/fobia-phobia/. “Fobia Sosial” di akses pada tanggal 18 Juli 2008.



salam kekuatan berawal dari hati  bayoete.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar maupun Pesan nya.... lampirkan alamat email atau web anda:..... Thanks